JADI JANTUNGNYA EV, KOMODITAS INI DIPREDIKSI BAKAL MENJADI “EMAS HITAM” BARU


By: Andhika A Kresna Jun 29, 2026 104

JAKARTA – Penggunaan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di sektor pertambangan semakin masif guna mendukung efisiensi operasional sekaligus mengejar target Net Zero Emission (NZE). Peralihan ini kian terakselerasi menyusul lonjakan harga bahan bakar konvensional. Di industri komoditas, keunggulan utama armada elektrik terletak pada operasionalnya yang ramah lingkungan karena bebas emisi gas buang dan polusi udara langsung di lokasi kerja.

Selain memangkas biaya operasional secara signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi solar alat berat, penggunaan unit elektrik juga terbukti meningkatkan kenyamanan kerja karena mampu mereduksi tingkat kebisingan di area site pertambangan secara drastis.

Namun, tahukah Intecsian apa "jantung" utama dari armada ramah lingkungan tersebut? Untuk menciptakan sebuah baterai EV yang tangguh, industri tidak hanya bergantung pada bijih nikel mentah. Ada rangkaian panjang pengolahan komoditas strategis di baliknya yang kini digadang-gadang sebagai 'emas hitam' baru, salah satunya adalah Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

MHP merupakan produk antara hasil pengolahan bijih nikel laterit jenis limonit. Material yang biasanya berbentuk bubuk abu-abu kehijauan ini mengandung endapan hidroksida dari logam berharga seperti nikel dan kobalt, menjadikannya bahan baku utama dalam pembuatan komponen aktif baterai EV.


Proses Hulu ke Hilir: Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik

Senyawa MHP dihasilkan melalui teknologi hidrometalurgi mutakhir yang disebut High Pressure Acid Leaching (HPAL). Proses ini memanfaatkan asam sulfat di bawah suhu dan tekanan tinggi untuk mengekstraksi nikel kadar rendah.

Secara makro, berikut adalah 5 tahapan rantai pasok (supply chain) baterai EV yang bergerak dinamis dari hulu tambang hingga fase daur ulang:


1. Hulu (Upstream): Penambangan Mineral Kritis

Tahap awal dimulai dari ekstraksi dan penambangan bahan mentah yang menjadi komponen inti sel baterai. Mineral utama yang dieksplorasi meliputi:

Nikel: Menentukan kapasitas kepadatan energi baterai (di mana Indonesia memegang peran sebagai salah satu pemain terbesar global).

Litium, Kobalt, Mangan dan Grafit.


2. Antara (Midstream): Pemurnian dan Pengolahan (Refining & Processing)

Bahan mentah hasil tambang tidak bisa langsung diaplikasikan ke komponen baterai. Mineral tersebut wajib dimurnikan terlebih dahulu menjadi bahan kimia murni tingkat baterai (battery-grade chemicals).

Contoh Proses: Mengolah bijih nikel kadar rendah via teknologi HPAL untuk menghasilkan MHP. Senyawa MHP ini kemudian diproses lebih lanjut hingga menjadi Nikel Sulfat.

 

3. Produksi Komponen (Precursor & Cathode/Anode Manufacturing)

Setelah bahan kimia murni siap, langkah berikutnya adalah memabrikasi komponen aktif sel:

Prekursor: Campuran zat kimia murni sebelum diolah menjadi material katoda.

Katoda dan Anoda: Katoda umumnya dibuat dari campuran nikel, mangan, dan kobalt (NMC) atau litium besi fosfat (LFP). Sementara bagian anoda memanfaatkan material grafit.


4. Perakitan Sel dan Paket Baterai (Cell & Pack Assembly)

Pembuatan Sel: Komponen katoda, anoda, separator, dan cairan elektrolit dirakit menjadi satu kesatuan sel baterai individu (berbentuk silinder, kotak, atau kantong).

Pembuatan Pack: Ratusan sel individu dikelompokkan ke dalam modul, lalu dirakit menjadi satu paket baterai (battery pack) utuh yang terintegrasi dengan Battery Management System (BMS) sebagai otak pengontrol suhu dan arus daya.


5. Hilir (Downstream): Integrasi Kendaraan dan Daur Ulang

Integrasi EV: Paket baterai dikirim ke pabrik manufaktur otomotif untuk ditanamkan langsung pada sasis kendaraan. Daur Ulang (Recycling): Ketika masa pakai optimal baterai habis (estimasi 8–10 tahun), baterai akan diekstraksi kembali lewat jalur daur ulang untuk diambil mineral berharganya, lalu dialirkan kembali ke siklus tahap pertama.

 

Intecs terus  mendukung efisiensi operasional sekaligus mengejar target Net Zero Emission (NZE) dimasa depan khususnya dalam dunia pertambangan. Seperti apa heavy equipment berteknologi ev dimasa depan?


 

 

 

Author: Andhika Adi Kresna

Sumber: ragamsumber, JACMotors

0 Comments
Leave A Reply